Saya tidak memohon kepada Tuhan untuk mengurangi beban yang saya pikul ini. Akan tetapi saya mohon agar Tuhan menguatkan bahu saya agar saya mampu memikul beban ini.
Kalau saya memberi dengan tangan kanan, saya akan menyembunyikan tangan kiri saya.
Saya berdoa untuk orang-orang yang membenci saya:
Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
kebahagiaan dan penderitaan hanya dibatasi oleh selaput tipis. Itulah cinta.
Didalam gelap kita bisa melihat cahaya. Didalam penderitaan kita bisa merasakan kebahagiaan.
Persahabatan mencari kita ketika kita bahagia, kita mencari persahabatan ketika kita menderita.
Terkadang lebih mudah mencintai orang yang tidak mencintai kita, daripada mencintai orang yang mencintai kita.
Tak perlu menyesali cinta yang tak terbalas. Justru berbanggalah, sebab paling tidak Anda telah berbuat baik. Dan perbuatan yang baik adalah mulia. ***
Terkadang aku merasa cemburu dan iri kepada orang lain. Orang lain yang punya sifat pemaaf, dan begitu mudah bisa melupakan sesuatu yang pernah membuat mereka kecewa atau pernah diperlakukan yang tidak menyenangkan. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi orang-orang seperti ini, namun rasanya sulit sekali merubah sifat ini.
Aku bukan seorang pendendam. Dan tak pernah dan tak akan pernah melakukan “pembalasan” terhadap sesuatu yang pernah membuatku kecewa, kesal atau bahkan yang lebih serius lagi. Sekali dua kali barangkali aku bisa mengerti. Tapi kalau kejadian itu terus berulang-ulang, aku sangat sulit untuk memaafkan. Dan akan kuingat terus selamanya.
Barangkali ini memang sifatku yang paling buruk yang aku miliki. Aku lebih suka memilih diam dan enggan untuk memulai lagi memperbarui sesuatu yang telah “dirusak” secara sengaja atau tidak. Diamku bukan berarti membenci. Diamku hanya merupakan expresi dari rasa “trauma”. karena takut akan menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan akan terjadi lagi.
Dari semua itu mungkin aku bisa menarik pelajaran. Meskipun usiaku sudah tidak remaja lagi, rupanya aku harus belajar lebih dewasa lagi didalam menghadapi segala persoalan hidup. Aku mencoba merenung dan harus banyak introspeksi.
Padahal aku juga tidak mengharap banyak dari sesuatu yang pernah berjalan dengan baik. Sudah sejak awal aku juga sudah menyadari dan berusaha untuk menempatkan segala sesuatu pada porsinya.
Disini aku menyampaikan maaf kepada siapa saja oleh karena sikapku yang demikian. Inilah aku yang sebenarnya. Aku tidak bisa menjadi orang-orang yang baik berhati mulia. Dengan sikapku ini barangkali aku sulit untuk menjadi teman yang baik. Tapi aku juga tidak mau menjadi teman yang jahat.
Sekali lagi diamku bukan berarti membenci. Akan tetapi aku minta waktu untuk menata kembali perasaan dan sikapku. Karena aku menginginkan orang lain menerima aku sebagaimana adanya aku. karena aku tak akan pernah bisa menjadi orang lain. ***


0 komentar:
Posting Komentar